Museum Geologi Bandung
Museum Geologi Bandung merupakan salah satu Obyek Wisata di Bandung, jangan lewatkan ke tempat ini saat kunjungan wisata ke Bandung.
Sebelum Kang Asep membaca Artikel ini jangan lupa, untuk perbekalan kateringnya pesan ke
Kang Asep : . hehehe....
Arah Waktu :
- 25 Menit Dari Bandara husein Sastranegara
- 15 Menit dari Stasiun Kereta Api Bandung
- 30 Menit dari Terminal Leuwi Panjang
- 15 Menit dari Terminal Cicaheum
Jam Operasional :
- Senin - Kamis : Jam 08.00 s.d 16.00
- Sabtu - Minggu : Jam 08.00 s.d 14.00
- Jumat dan Hari Libu Nasional : TUTUP
Sejarah Gedung Museum Geologi Bandung
Keberadaan Museum Geologi berkaitan
erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah
Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh ahli geologi
dari Eropa. Setelah di Eropa terjadi revolusi industri pada pertengahan
abad ke-18, mereka sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar
industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan
galian di wilayah Nusantara. Dengan jalan itu diharapkan perkembangan
industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka dibentuklah Dienst van het Mijnwezen pada tahun 1850. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada
tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya
mineral. Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral,
fosil , laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan
penyimpanan, sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun
gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya
bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum. Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg, dan
dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja dan menghabiskan dana 400
Gulden, mulai pertengahan tahun 1928 sampai diresmikannya pada tanggal
16 Mei 1929. Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan
Konggres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress)
di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.
MASA PENDUDUKAN JEPANG
Sebagai
akibat dari kekalahan pasukan Belanda dari pasukan Jepang pada perang
dunia II, keberadaan Dienst van den Mijnbouw berakhir. Letjen. H. Ter Poorten (Panglima
Tentara Sekutu di Hindia Belanda) atas nama Pemerintah Kolonial Belanda
menyerahkan kekuasaan teritorial Indonesia kepada Letjen. H. Imamura (Panglima
Tentara Jepang) pada tahun 1942. Penyerahan itu dilakukan di Kalijati,
Subang. Dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia, Gedung Geologisch Laboratorium berpindah kepengurusannya dan diberi nama KOGYO ZIMUSHO dan setahun kemudian berganti nama CHISHITSU CHOSACHO.
Pada
masa pendudukan Jepang, pasukan Jepang mendidik dan melatih para pemuda
Indonesia untuk menjadi : PETA (Pembela Tanah Air) dan HEIHO (pasukan
pembantu bala tentara Jepang pada Perang Dunia II). Laporan hasil
kegiatan di masa itu tidak banyak yang ditemukan, karena banyak dokumen
(termasuk laporan hasil penyelidikan) yang dibumihanguskan tatkala
pasukan Jepang mengalami kekalahan di mana-mana pada awal tahun 1945.
MASA KEMERDEKAAN
Setelah Indonesia merdeka pada Tahun 1945, pengelolaan Museum Geologi berada dibawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG/1945-1950). Pada
tanggal 19 September 1945, pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat dan
Inggris yang diboncengi oleh Netherlands Indiƫs Civil Administration
(NICA) tiba di Indonesia (mendarat di Tanjungpriuk, Jakarta). Di Bandung
mereka berusaha menguasai kembali kantor PDTG yang sudah dikuasai oleh
para pegawai Indonesia. Tekanan yang dilancarkan oleh pasukan Belanda
memaksa kantor PDTG dipindahkan ke Jl. Braga No. 3 dan No. 8 Bandung
pada tanggal 12 Desember 1945. Kepindahan kantor PDTG rupanya terdorong
pula oleh gugurnya seorang pengemudi bernama Sakiman dalam
rangka berjuang mempertahankan kantor PDTG . Pada waktu itu, Tentara
Republik Indonesia Divisi III Siliwangi mendirikan Bagian Tambang, yang
tenaganya diambil dari PDTG. Setelah kantor di Rembrandt Straat
ditinggalkan oleh pegawai PDTG, pasukan Belanda pun di tempat itu
mendirikan lagi kantor yang bernama Geologische Dienst. Di
mana-mana terjadi pertempuran, maka sejak Desember 1945 sampai dengan
Desember 1949, selama 4 tahun kantor PDTG terlunta-lunta pindah dari
satu tempat ke tempat lain. Pemerintah Indonesia berusaha menyelamatkan
dokumen- dokumen hasil
penelitian geologi sehingga harus berpindah pindah tempat dari Bandung –
Tasikmalaya - Solo – Magelang - Yogyakarta, baru pada Th 1950 kembali
ke Bandung.
Da
lam usaha menyelamatkan dokumen - dokumen tersebut, pada tanggal 7 mei 1949, Kepala PUSAT JAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI, Arie Frederik Lasut, diculik dan dibunuh tentara belanda dan gugur sebagai kusuma bangsa di Desa Pakem Yogyakarta.
Sekembalinya
ke Bandung, Museum Geologi mulai mendapat perhatian dari pemerintah RI,
terbukti pada tahun 1960 Museum Geologi dikunjung oleh Presiden pertama
RI , Ir. Soekarno. Pengelolaan Museum Geologi yang tadinya dibawah PUSAT DJAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI (PDTG) berganti nama menjadi: Djawatan
Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi
(1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi
(1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi (1978 - 2005) , Pusat Survei Geologi mulai akhir
tahun 2005 sampai sekarang.
Seiring
dengan perkembangan jaman, pada tahun 1999 Museum Geologi mendapat
bantuan dari Pemerintah Jepang senilai 754,5 juta yen untuk direnovasi.
Setelah ditutup selama satu tahun, Museum Geologi dibuka kembali dan
pembukaannya diresmikan pada tanggal 20 Agustus Tahun 2000 oleh Wakil
Presiden RI waktu itu Ibu Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan dan Energi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.
Dengan penataan yang baru ini peragaan Museum Geologi terbagi menjadi 3 ruangan yang meliputi Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia serta Geologi untuk Kehidupan Manusia. Sedangkan
untuk dokumentasi koleksi tersedia sarana penyimpan koleksi yang lebih
memadai diharapkankan pengelolaan contoh koleksi di Museum Geologi lebih
mudah diakses oleh pengguna baik peneliti maupun grup industri. Mulai
tahun 2002 Museum Geologi melalui Kepmen ESDM Nomor: 1725 tahun 2002
statusnya menjadi Unit Pelaksana Teknis Museum Geologi dilingkungan
Balitbang ESDM. Mulai akhir 2005 Museum Geologi berada dibawah Badan
Geologi bersama dengan terbentuknya Badan Geologi sebagai Unit Eselon I
yang ada di lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Untuk
menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik Museum Geologi dibentuk 2
seksi dan 1 sub bagian yaitu Seksi Peragaan dan Seksi Dokumentasi serta Subbag Tatausaha. Guna
lebih mengoptimalkan perannya sebagai lembaga yang memasyarakatkan ilmu
geologi, Museum Geologi juga mengadakan kegiatan antara lain seperti penyuluhan, pameran, seminar serta kegiatan survei lapangan untuk pengembangan peragaan dan dokumentasi koleksi.

